Keyhole

Gimana Kalo Kita Punya Platform Pencetak Anak “Beneran Cerdas”

Ngelihat timeline di sosial media akhir-akhir ini, rasanya kesel, ngegemesin, dan campur aduk. Di sisi lain ada oknum yang ngemanfaatin kepolosan pengguna sosial media buat nyari duit.

Suka gemes gak si ngeliat ada temen sendiri atau orang yang kita kenal yang ngelakuin hal berikut ini di sosial media.

  1. Di sosial media isi timeline dia ngoceh nyinyir blaming sana sini.
  2. Ngeributin hal-hal yang emang sepele dan gak perlu diributin.
  3. Ke bawa isu-isu yang gak jelas atau belum jelas bener salahnya.
  4. Komentar-komentar yang nyudutin orang salah padahal dia sendiri gak tau yang dia omongin apa.
  5. Gampang marah kalo sudah bawa-bawa atribut yang bersifat agama.
  6. Yakin bahwa semua orang salah kecuali dia.
  7. And so on… (ada yang mau nambahin?)

Kadang saya suka mikir, gimana seandainya kalo hidayah itu sebenernya adalah sains dan critical thinking?

Ok, mungkin saja saya hanya big talk, tetapi jika diperhatiin orang-orang yang ngerti sains dan kritis mereka asik-asik. Asik di ajak bicara, asik diajak diskusi (terbuka), sekalipun ngomongin yang gak penting, tapi itu hanya candaan aja (bukan serius).

Orang-orang kayak mereka punya visi yang jelas dan tahu harus ngapain di kehidupannya.

Urusan politik, ras, suku, dan agama, kayak-kayaknya gak bakalan ada habisnya kalo mau di cari siapa yang bener siapa yang salah. Cukuplah kita hanya menawarkan gagasan atau cara pandang dan kembalikan keputusan pada diri masing-masing. Jangan ada blaming dan paksaan.

So, Gimana Caranya Kita Meng-Address Masalah ini?

Sekitar 8-7 tahun yang lalu ketika saya pertama kenal sosial media, isinya tidak seheboh sekarang. Dulu sosial media emang beneran buat sosial.

Hal-hal kecil seperti like, poke, upload foto, status, dan komentar beneran digunain sebagai kegiatan sosial. Ada rasa yang beda ketika kita mendapat like atau poke dahulu dibanding sekarang.

Sekarang, rasa itu sudah hilang dan berubah, semua (mostly) berorientasi pada tujuan tertentu seperti yang saya sebutkan tadi (Urusan politik, ras, suku, dan agama).

Nah, apalagi menjelang pemilu, banyak oknum yang ngemanfaatin kepolosan pengguna sosial media demi keuntungan pribadi mereka saja. Saya sudah enek dengan komentar dan status tersebut (Urusan politik, ras, suku, dan agama). Sudah banyak teman yang saya unfollow gara-gara itu. Belajar dari hal ini, sekarang saya selalu berhati-hati menambahkan teman.

Dulu sekitar tahun 2010-2011, saya ingin sekali masuk kampus gajah. Entah gimana caranya saya ketemu produk Z multimedia. Sekali lagi, mungkin ini hanya big-talk saja, tetapi karena mereka saya seperti diberikan hidayah itu.

Ketika di SMA saya masih percaya bahwa evolusi itu cuman konspirasi barat, didukung juga karena guru biologi yang mengatakan bahwa itu tidak mungkin benar karena bertentangan dengan al-kitab. Setelah belajar melalui produk Z saya baru tahu seberapa tidak mengertinya saya.

Kadang-kadang memang gitu, kebodohan kita adalah kita tidak tahu apa yang kita tidak tahu.

Setelah beberapa tahun, saya seperti dibukakan mata bahwa sains dan kritis itu adalah life-key buat gak gampang di bego-begoin. Z pada pada dasarnya adalah kunci yang sudah ngebukain pikiran yang tertutup saya saat itu.

Key Concept is the Key

Tujuan sekolah secara garis besar adalah itu, ngebukain otak agar berpikir terbuka, agar anak-anak bangsa tidak mudah kebawa arus, tidak mudah di bego-begoin.

Sekolah sudah seharusnya menjadi platform untuk menyiapkan anak-anak penerus bangsa menjadi pembelajar seumur hidup. Belajar tidak berhenti ketika selesai sekolah 12 tahun saja, justru belajar yang sesungguhnya adalah setelah selesai sekolah.

Nah, yang keren dari Z. Mereka nekenin buat sebisanya ngerti key-concept. Tidak loncat sana sini yang biasanya di sekolah lakuin.

Ketika ngerti key-concept pada bidang apa saja. Seharusnya tidak ada lagi perdebatan gak penting di sosial media (contohnya seperti isu kalo bumi bulat itu konsporasi barat).

Improve the Z Product More

Ide saya sangat sederhana. Z product sudah pada jalan yang benar, hanya perlu di tambah beberapa kemampuan. Hal yang perlu di tambahin itu yaitu:

Gimana caranya agar siswa tahu apa yang dia tidak tahu.

Rasanya, ketika siswa tahu seberapa tidak mengertinya dia dengan suatu konsep, harusnya dia tahu harus ngapain (Learn to fix it from the very basic).

Kecerdasan tidak datang begitu saja, kecerdasan itu datang karena dilatih terus menerus dengan cara yang benar.

Di Z Product data hasil ujian tidak ada. Kalaupun ada itu hanya record siswanya sendiri. Bagaimana jika ada suatu platform yang mengolah hasil latihan siswa selama beberapa waktu dan hasilnya adalah sebuah statistik kemampuan siswa. Siswa kuat di bagian apa dan lemah di bagian apa.

Bayangkan platform ini adalah sebuah sistem supervised learning yang memberikan rekomendasi berdasarkan data dari hasil latihan siswa.

Ketika siswa sudah merasa puas dengan kemampuannya, sistem akan memberikan level tertentu. Sehingga siswa bisa mencoba latihan lagi dengan level yang lebih tinggi.

Will it Succeed?

Tidak ada yang tahu kali kita tidak mencobanya. So, doain saja semoga product ini bisa meng-address masalah-masalah di atas secara jangka panjang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *